Kamis, 20 November 2014

Kobarkan Semangat Gusti Ngurah Rai

* Ratusan Siswa Sambut Peserta Napak Tilas di Pejeng

PEJENG, Ratusan siswa SD dan SMP se Desa Pejeng menyambut peserta napak tilas Pahlawan I Gusti Ngurah Rai, Kamis 13 November 2014. Iring-iringan yang membawa pataka dan panji-panji perjuangan Ngurah Rai tiba di Pejeng sekitar pukul 18.00 Wita.
Tampak ratusan siswa  membawa bendera merah putih, berjejer di pinggir jalan mulai dari monumen perjuangan rakyat Pejeng. Mereka menyambut pasukan pembawa panji-panji dan Pataka Ngurah Rai  dengan penuh semangat, sembari mememikkan kata-kata merdeka… merdeka, merdeka, di sepanjang perjalanan.

Ketika memasuki Jaba Puri Pejeng tampak ratusan siswa SMP Santiyoga membawa obor dan bendera merah putih. Diriingi tetabuhan balagenjur, mereka bersiap-siap menyambut pasukan pembawa panji-panji Ngurah Rai untuk bersama-sama menuju ke Tugu Pahlawan Sapta Dharma. Setibanya di Tugu Pahlawan, seluruh peserta menggelar upacara, dilanjutkan dengan tabur bunga. Setelah itu, pasukan napak tilas Ngurah Rai kembali menuju Gianyar.
Sebelumnya, panji-panji dan pataka Ngurah Rai di arak keliling Gianyar. Dilepas Asisten I Setda Gianyar Cokorda Rai Widiarsa mewakili bupati.

Cok Rai mengatakan, kegiatan Napak Tilas dan  Sarasehan ini merupakan momentum untuk memantapkan penghayatan terhadap nilai-nilai kejuangan oleh pahlawan bangsa. Nilai tersebut tercermin dalam semangat persatuan dan kesatuan, jiwa rela berkorban, mengutamakan kepentingan umum, pantang menyerah dalam pelaksanaan pembangunan.
“Kendati kita sudah merdeka, namun berbagai permasalahan masih harus dihadapi, yaitu kemiskinan, pengangguran, kesehatan, pendidikan, pemerataan pembangunan, dan pelbagai masalah sosial lainnya. Namun,kita tetap yakin semuanya akan terselesaikan. Apabila kita bahu membahu dalam pembangunan,’’ terang Pejabat asal Puri Pejeng itu. (dey)


Jumat, 31 Oktober 2014

Kemarau, Hektaran Sawah Petani Kekeringan

·      *  Saluran Irigasi Tersumbat Sampah, Gorong-Gorong Ambles

PEJENG, Musim kemarau yang berkepanjangan sejak empat bulan terakhir ini membuat hektaran sawah di kawasan Subak Pegending, Pejeng dan sekitarnya kekeringan. Para petani terpaksa menunda niatnya menanam padi, lantaran sulit mendapat air. Padahal, semestinya saat ini sedang musim tanam padi.

Pantauan di lapangan, tampak hektaran sawah kering kerontang ditumbuhi “embong” (sisa tanaman padi) serta rumput-rumput liar.  Tanah sawah yang biasanya berlumpur kini tampak retak-retak.

“Sudah sekitar empat bulanan petani di sini kesulitan air,” ujar A.A. Gde Rai Udara, seorang petani di kawasan Subak Pegending.

Dia tidak mengeathui secara pasti penyebab sulitnya air akahir-akhir ini. Namun, menurut informasi yang didapatnya dari teman-teman sesama petani, konon aliran air dari hulu sejak memasuki kemarau ini memang kecil.

“Konon air dari hulu sungai di kawasan Ulun Suwi, Pengembungan memang kecil, jadi tidak bisa mengairi sawah petani di sini,” ungkapnya.

Hal senada dikatakan petani lainnya, Dewa Nyoman Nik. Menurutnya, saat kemarau seperti saat ini hampir semua sawah di kawasan Subak Pegending –yang sumber air irigasinya dari kawasan Ulun Suwi Pengembungan -- dalam kondisi kekeringan. 

‘’Biasanya setelah tiga atau empat minggu pasca panen padi, petani sudah bisa kembali mengolah tanah sawah, tapi saat ini tidak sama sekali,” keluhnya.
Selain itu, petani tadi juga mengeluhkan kondisi saluran irigasi menuju sawahnya yang tersumbat sampah serta terancam jebol di beberapa titik. “Lihat saja selokan di sebelah utara Banjar Guliang menuju ke arah barat, sering sekali tersumbat sampah,” ujar Gung Kak Rai.

Sementara itu, saluran irigasi yang nyaris putus terjadi di pertigaan jalan dari Pejeng menuju Tatiapi. Gorong-gorong di situ ambles, akibat tidak kuat menahan beban truk-truk bermuatan berat yang melintas di sana. Padahal proyek gorong-gorong itu belum ada setahun kelar.


Terhadap persoalan tersebut para petani hanya bisa pasrah. Pasrah menunggu musim hujan tiba dan pasrah menunggu pemerintah memperbaiki gorong-gorong yang jebol tersebut. Semoga masalah tersebut bisa segera teratasi, sehingga para petani bisa kembali beraktifitas seperti sedia kala. dey

“Cultural Wonders of the Royal Pejeng Performance”

* Dibuka Bupati Agung Bharata  

Bupati Agung Bharata menyapa para tamu undangan "Cultural Wonders
of The Royal Pejeng perfomances 
PEJENG, Sebagai desa pendamping kawasan wiSata Ubud, Desa Pejeng memang belum tersentuh sektor pariwisata. Padahal, di desa tua ini, banyak ada potensi wisata yang masih belum tergali, termasuk sejumlah peninggalan purbakala. Pun demikian, dari segi adat istiadat dan kebiasaan unik serta pemandangan alamnya, Desa Pejeng tak kalah dibandingkan desa wisata lainnya. Kondisi inilah yang membuat Pemkab Gianyar menggelar kegiatan bertajuk “Cultural Wonders of the Royal Pejeng Performance”, Rabu (8/10) lalu. 
Memang dari segi kawasan, Desa Pejeng berada diantara dua sungai, yakni sungai Pakerisan dan sungai Petanu yang berlokasi di Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Desa ini dikenal dengan sejumlah Pura dan situs purbakalanya. Salah satu tradisi unik yang dimiliki Desa Pejeng adalah ritual “Siat Sampian” yang bermakna solidaritas dan semangat “gotong royong” serta kebersamaan. Tradisi ini dilaksanakan setiap piodalan di Pura Penataran Sasih. 
Di Desa Pejeng juga ada sebuah istana yang bernama Puri Agung Soma Negara Pejeng. Istana ini sebagai bukti Kerajaan Bali juga berkembang di Pejeng. Puri Agung Soma Negara Pejeng merupakan salah satu kerajaan tertua di Bali. Puri ini ditemukan pada abad ke-10 sebelum aliran Budha tersebar di Bali dan berpusat di Bedulu. Anggota kerajaan Soma Negara ini dahulu sempat diasingkan ke Nusa Penida selama beratus-ratus tahun sehingga  Puri Pejeng terbengkalai. Namun seni dan budaya tidak pernah luntur bahkan seni tari yang menjadi akar budaya Pejeng menyelamatkan keberadaan kerajaan ini. 
Terbukti, pada tahun 1817, Puri Pejeng hidup kembali setelah menampilkan salah satu kesenian sakralnya. Hal ini membuktikan bahwa seni dan budaya dapat menjadi tiang peradaban yang kaya dan beragam. Dengan potensi yang luar biasa itu masyarakat Desa Pejeng menghasilkan berbagai macam kebudayaan adiluhung yang menarik untuk digali dan dikembangkan menjadi sebuah mahakarya seni. Untuk itulah, digelar sebuah karya yang bertajuk “Cultural Wonders of the Royal Pejeng Performance” .
Dalam pertunjukkan tersebut, ditampilkan sejumlah kesenian klasik seperti Mawirama, Wayang Kulit, Wayang Wong (Wayang Orang) dan Kecak yang mengambil lakon  “Kumbakarna Gugur”. Pertunjukkan ini bertujuan menghidupkan kembali warisan budaya Desa Pejeng dan untuk menarik wisatawan datang ke Pejeng sebagai salah satu destinasi wisata di Kabupaten Gianyar.
Bupati Gianyar Agung Bharata yang mendukung penuh kegiatan ini menegaskan, negara yang besar menghargai alam, sejarah dan budayanya. Budaya itu sendiri dikembangkan dan dibentuk oleh nilai-nilai dari anggota masyarakatnya. Bali dikenal dengan kekayaan seni dan budayanya yang mencerminkan kehidupan masyarakat Bali. “Pemahaman dan pengetahuan mendasar tentang sejarah membuat kita melestarikan dan bahkan mengembangkan warisannya terutama dalam seni dan budaya. Desa pejeng sebagai bagian dari Kabupaten Gianyar, juga akan terus dilestarikan dan dikembangkan keberadaannya terutama kebudayaannya,” tegasnya. 
Perbekel Desa Pejeng, Cok Agung Kusumayudha sangat menyambut positif kegiatan ini. Menurutnya, saat ini pihaknya memang sedang berupaya membangkitkan potensi wisata di Desa Pejeng. “Dengan adanya kegiatan seperti ini, kami sangat berharap potensi wisata Desa Pejeng bisa dibangkitkan dan nantinya mampu mensejahterkan masyarakat,” harapnya. (dey/wb)

Selasa, 30 September 2014

Sejumlah Pemuda Pejeng Dididik Jadi Wartawan Desa

* Kelas Jurnalisme Warga

Banyak potensi desa Pejeng yang layak dipromosikan lewat media massa.
Pejeng, Era keterbukaan informasi sudah merambah hingga ke pelosok-pelosok desa. Hal tersebut tampaknya disadari benar oleh Kepala Desa Pejeng, Cokorda Gede Agung Kusuma Yudha. Mengantisipasi hal tersebut, Minggu (28/9) lalu, digelar pelatihan yang bertajuk “Kelas Jurnalisme Warga” di Pekarangan, sebelah barat Pura Kebo Edan, Pejeng.  
Pelatihan ini diikuti sejumlah pemuda dan pemudi yang punya hobi menulis dan tertarik pada dunia jurnalistik dan photography. Mereka itu di antaranya ada yang berasal dari Banjar Pande, Banjar Puseh dan Banjar Intaran.  Namun karena ada peserta yang pada saat bersamaan sibuk upacara adat, maka hanya beberapa peserta bisa mengikuti kegiatan “Kelas Jurnalisme Warga” ini hingga tuntas.
Sebenarnya, masih banyak warga khususnya kalangan anak-anak muda yang berminat mengikuti pelatihan gratis ini. Namun karena ada kendala berbagai hal --seperti ada yang masih mengikuti program KKN di luar daerah, ada yang sibuk kuliah dan menyusun skripsi, upacara adat, dan sebagainya-- maka kegiatan ini hanya diikuti beberapa orang saja. Meski begitu, “Kelas Jurnalisme Warga” ini tetap berlangsung lancar, hingga usai sekitar pukul.17.30 wita.
Kegiatan yang merupakan kerja sama antara Sloka Institute dan LITE Institute dipandu langsung seorang jurnalis, Luh De Suryani dan Intan. Mereka jauh-jauh datang dari Denpasar untuk memandu calon-calon wartawan muda menjadi penulis yang andal.
Kegiatan ini dikemas secara santai dan penuh keakraban. Diawali dengan perkenalan seluruh peserta. Setelah itu dilanjutkan dengan pembekalan teori seputar dunia jurnalistik warga. Pada kesempatan itu juga dijelaskan apa itu jurnalisme warga, bagaimana menulis yang baik dan benar dari sudut pandang warga sendiri, dan sebagainya.
Setelah dirasa cukup, kegiatan dilanjutkan dengan peliputan ke lapangan. ADa yang memilih jalan-jalan ke lokasi situs Candi Kelebutan, ada yang lokasi kinciri air di Tukad Bubung, Tugu Pahlawan Sapta Dharma, ada pula yang jalan-jalan di persawahan sebelah barat Pura Kebo Edan.
Dari hasil peliputan tersebut seluruh peserta ditugaskan menulis apa yang didapatnya ke dalam sebuah berita, sesuai sudut pandang masing-masing. Tulisan tersebut kemudian dibahas bersama-sama mengenai kekurangan dan kelebihan dari berita yang disusun tersebut.
“Ternyata semua peserta punya potensi menjadi penulis,” puji Luh De Suryani, di sela-sela berlangsungnya pelatihan. Walaupun diakuinya, masih banyak yang perlu dibenahi.
Hal senada dikatakan Intan. Menurutnya, dasar untuk menjadi penulis sudah ada pada diri masing-masing peserta, sekarang tinggal bagaimana mengasah kemampuan tersebut.

Menurut Luh De, dari jurnalisme warga kita bisa berbagi cerita mengenai pengalaman sendiri lewat tulisan. Luh De sendiri berharap agar dari Kelas Jurnalisme Warga ini nantinya akan lahir penulis-penulis berbakat. Terlebih Desa Pejeng sebentar lagi akan punya website. Pejeng. Desa.or.id. (dey)

Caru Balik Sumpah Gering Digelar di SMPN 3 Tampaksiring

* Puluhan Siswa Kembali Kesurupan 

Pejeng, Pihak SMPN 3 Tampaksiring menggelar upacara caru balik sumpah, Selasa (23/9), serangkaian kesurupan siswa yang terjadi beruntun di SMPN3 Tampaksiring. 

Saat upacara yang dipuput Jero Mangku Pura Dalem Tengaling ini berlangsung, puluhan siswi kembali kesurupan.

Hal tersebut tentu saja membuat suasana sore di sekolah yang dekat setra adat Jro Kuta Pejeng itu kembali mencekam.

Satu persatu siswi tiba-tiba menangis, lalu ambruk dipangkaun teman-temannya. Suasana di sekitar lokasi upacara pun mencekam. Mereka yang kesurupan langsung dievakuasi ke ruang guru dan ruang UKS. 
Salah seorang siswi terpaksa dilarikan ke rumah sakit akibat mengalami sesak nafas pasca kesurupan. 
Kepala SMP  3 Tampaksiring, A.A Gede Surya Atmaja  mengatakan, caru balik sumpah gering ini dilakukan atas petunjuk Ida Pedanda Wayahan Bun dari Griya Sanur Pejeng. Ritual ini sebagai salah satu upaya dari pihak sekolah menangkal kasus kesurupan yang kerap dialami siswa di sekolah ini sejak sebulan terakhir. 
“Dengan digelarnya upacara ini, mudah-mudahan kasus kesurupan tidak terjadi lagi,” harapnya. (dey)

Siswa Kesurupan, Suasana di SMP 3 Tampaksiring Mencekam

Pejeng, Kasus kesurupan siswa belakangan ini ibarat “penyakit menular”. Setelah muncul di satu sekolah, lalu merambah ke sekolah-sekolah lainnya. Betapa tidak, kasus kesurupan ini jauh-jauh sebelumnya sudah terjadi di sejumlah sekolah di Bali. Bahkan beberapa sekolah di tanah Jawa pun kabarnya ada siswanya yang mengalami kesurupan. Dan kini giliran siswa SMPN 3 Tampaksiring, yang mengalaminya.

Sebanyak lima orang siswi sekolah setempat, Rabu (10/9) lalu tiba-tiba saja menangis histeris, lemas, lalu ambruk. Beberapa di antaranya lalu komat-kamit sambil ngoceh, entah siapa yang diajaknya bicara. Melihat hal itu, kontan saja siswa-siswa di sekolah yang berada di sebelah barat Pura Dalem Tengaling, Pejeng itu, mendadak heboh.

Para guru yang bertugas pada saat itu juga sibuk menangani siswi yang kesurupan itu. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, siswa setempat pun dipulangkan lebih awal. Bahkan, siswa kelas VII yang masuk sore pun akhirnya diliburkan. 

Menurut informasi, kasus kesurupan ini sebenarnya sudah terjadi beberapa hari sebelumnya. Namun puncaknya terjadi sekitar pukul 09.30 wita, Rabu (10/9). Dimana, ada sebanyak lima orang siswi kesurupan. Dua di antaranya yakni Ni Komang Feby Aprilia siswi kelas VIII dan A.A Istri Indira Dewi siswi kelas IX, mengalami kesurupan paling lama. 

Menurut Wakasek Kesiswaaan SMPN3 Tampaksiring, Ketut Suena, tercatat ada sekitar 15 siswi yang kesurupan.Atas kejadian itu, pihaknya sudah memohon petunjuk kepada Ida Pedanda Wayahan Bun dari Griya Sanur, Pejeng. Bahkan, Ida Pedanda Wayan Bun langsung datang untuk mengecek kondisi sekolah setempat. Dari hasil pengecekan itu, diketahui ada gangguan “niskala” dari luar. Pada saat itu, Ida Pedanda langsung memercikkan tirtha dan melakukan ritual di halaman sekolah. 


Sementara itu, pasca kesurupan, Kamis (11/9), suasana belajar mengajar di SMP 3 Tampaksiring berangsur normal. (dey)

Minggu, 31 Agustus 2014

Air Bersih Mulai “Ngecor” di Rumah Warga

PEJENG, Desa Pejeng kini terus menggeliat. Gebrakan demi gebrakan yang dilakukan Kepala Desa Pejeng Cokorda Gede Agung Kusuma Yudha, mulai terlihat hasilnya. Salah satunya yang kini sedang berlangsung adalah proyek pengadaan air bersih. 

Kini air bersih sudah “ngecor” di rumah-rumah warga.  Proyek air bersih ini tentu menjadi jawaban atas keluhan warga yang sejak lama menanti  ada pasokan air bersih, untuk mengatasi krisis air bersih pada saat musim kemarau tiba.

Seperti diketahui, air PDAM memang sejak lama sudah mengalir di Pejeng, namun belum mampu maksimal memenuhi kebutuhan warga akan air bersih. Pasalnya, aliran air PDAM ini kerap kali seret, atau bahkan tidak mengalir sama sekali dan berhari-hari. Hal itu biasanya terjadi saat musim kemarau tiba. Jika sekarang ada air bersih yang dirintis oleh desa, tentu akan dapat membantu warga yang sewaktu-waktu kekurang pasokan air dari PDAM.

Lihat saja jalan-jalan di sekitar Desa Pejeng dalam beberapa minggu belakangan ini, banyak yang digali untuk pemasangan pipa air. Air tersebut dialirkan dari sumber air di Tukad Bubung, sekitar 250 meter dari Pura Dalem Tengaling, Pejeng. Pada awalnya, pengadaan proyek air bersih ini sebelumnya juga melibatkan aparat TNI.

Sejumlah warga masyarakat mengaku senang, lantaran saat ini air sudah bisa mengalirhingga ke rumahnya. “Syukurlah, kini air bisa mengalir sampai di rumah saya. Jadi tidak perlu susah-susah jalan kaki ke sungai hanya untuk mandi,” ujar De’Aji  Manik.

Hal senada disampaikan sejumlah warga lainnya. Warga memuji terobosan yang dilakukan Perbekel Cok. Agung yang sangat pro rakyat. “Pengadaan air bersih ini merupakan salah satu bukti, bahwa Pak Cokorda Perbekel sangat peduli dan mendengar apa yang dibutuhkan warga selama ini,” ujar sejumlah warga dalam perbincangan ringan di sebuah warung di pasar sengol alun-alun.


Kini air bersih sudah mengalir.  Saatnya sekarang warga bersama-sama turut menjaga kelangsungan dari air bersih ini. Atau dengan kata lain, selalu menjaga kelestarian lingkungan Desa Pejeng dan yang tak kalah pentingnya, ingat bayar rekeningnya setiap bulan…! (dey)