Jumat, 28 Februari 2014

SD 2 Pejeng Tertimpa Pohon

GIANYAR- Hujan deras disertai angin kencang yang kembali menerjang Gianyar Minggu (9/2) kembali menimbulkan bencana. Bangunan SD 2 Pejeng, Tampaksiring rusak ditimpa pohon tumbang. Syukurnya, tak sampai menimbulkan korban jiwa.  
Pantauan di SD 2 Pejeng Senin (10/2) menunjukkan, sebuah pohon blayur berukuran sedang, tumbang menimpa sebagian bangunan sekolah, khususnya ruangan kelas IV. Akibatnya, bagian atap bangunan jebol dan sangat membahayakan keselamatan siswa. Pun demikian, proses belajar mengajar pun sempat terganggu. Siswa pun terpaksa dialihkan belajar di ruang perpustakaan. 

Kepala SD 2 Pejeng, Nyoman Bandem menyebutkan, tumbangnya pohon itu diperkirakan terjadi tengah malam saat hujan dan angin kencang mengguyur kawasan Pejeng. “Saat saya sampai di sekolah, sudah melihat ada pohon tumbang yang menimpa bangunan sekolah,” ujarnya. Untuk memastikan  keselamatan siswanya,  khusunya siswa Kelas IV dievakuasi ke ruangan perpustakaan. Meski demikian, proses belajar mengajar pun sedikit terusik, karena perhatian guru dan siswa tertuju pada pohon tumbang.
Pihaknya pun terpaksa memulangkan siswa lebih awal. Sebab sejumlah pohon  yang berada di areal sekolah juga rentan roboh dan akan ditebang. Sementara penebangan pohon  milik warga di sekitarnya akan dikoordinasikan lebih lanjut.

Untuk melakukan evakuasi bangkai pohon agar tak merusak bangunan lainnya, petugas dari BPBD Gianyar pun langsung turun ke lokasi. Petugas pun tampak sangat berhati-hati untuk melakukan evakuasi agar tak sampai merusak bangunan yang lainnya.

Setelah dilakukan evakuasi, akhirnya suasana belajar mengajar di SD Negeri 2 Pejeng, Tampaksiring, Gianyar Selasa (11/2) kembali berjalan normal. Bangunan gedung khususnya ruang kelas IV yang sempat tetimpa pohon sudah dilakukan perbaikan. Bahkan, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Gianyar, Dewa Gede Alit Mudiarta langsung turun melakukan pemantauan ke lokasi, Selasa (11/2). 

Pantauan di lokasi, sekitar 200 lebih genteng  hancur, dan kayu penyangga genteng patah. Seluruh kerusakan itu, kini sudah diganti dan dilakukan perbaikan oleh tukang bangunan yang dipanggil khusus untuk mempercepat perbaikan. Percepatan perbaikan ini diawasi langsung Kadis Dikpora Dewa Gede Alit Mudiarta. Tujuannya, agar tidak mengganggu proses belajar siswa, apalagi sering turun hujan yang bisa berakibat ruangan kelas  tergenang air. “Syukur tidak terjadi korban jiwa dan kerusakan sudah segera diperbaiki sehingga proses belajar mengajar bisa kembali berjalan normal,” ujar Dewa Gede Alit Mudiarta.

Kepala Sekolah SD Neger 2 Pejeng, I Nyoman Bandem, mengakui, pihak sekolah masih  khawatir  karena masih ada puluhan pohon yang rawan tumbang mengelilingi kawasan sekolah.  

Dalam waktu dekat, pihak sekolah akan menggelar rapat dengan komite sekolah untuk selanjutnya berkoordinasi dengan pemilik pohon agar segera dilakukan penebangan. “Hal ini sebagai  langkah antisipasi agar tidak terjadi pohon tumbang yang bisa membahayakan keselamatan siswa dan kerusakan bangunan sekolah ,” jelas Nyoman Bandem. (dey/wb) 

Jumat, 31 Januari 2014

Malam Siwa Ratri Dipusatkan di Pura Pusering Jagat

Pejeng, Malam itu mulai sekitar pukul 19.30 wita, Rabu (29/1), suasana di sejumlah Pura di wilayah Desa Pakraman Jro Kuta Pejeng tampak lain dari biasanya. Pura yang biasanya dijaga para pakemit, malam itu justru dipadati pemedek untuk melakukan persembahyangan. Jumlah pemedek terus bertambah hingga dini hari menjelang.
Benar sekali, rupanya pada saat itu Umat Hindu sedang merayakan hari suci Siwa Ratri. Yakni, upacara pemujaan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Hari siwa ratri ini dirayakan pada purwaning, sehari sebelum rahina tilem kapitu, atau akhir panglong (panglong ping 14) sasih kapitu. Umat Hindu percaya malam siwa ratri ini merupakan malam yang paling gelap di antara malam-malam yang ada menjelang tilem.
Pada malam siwa ratri inilah Ida Sang Hyang Siwa beryoga. Karena itu lah umat Hindu merayakan siwa ratri ini sebagai upaya penyucian diri, mohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manefestasinya sebagai Ida Bethara Siwa agar kita sebagai umat diampuni dari segala dosa-dosa yang pernah diperbuat. Tak heran, jika dalam perkembangannya istilah puja siswa ratri ini di kalangan umat Hindu dimaknai sebagai malam renungan suci. Yakni, dengan melaksanakan kegiatan brata berupa upawasa, monabrata dan jagra (begadang semalam suntuk).
Pelaksanaan puja siwa ratri tahun ini di wilayah Jro Kuta Pejeng dipusatkan di Pura Pusering Jagat. Setelah melakukan persembahyangan bersama sekita pukul. 19.00 wita, sejumlah pemedek melanjutkan persembahyangan di sejumlah Pura yang ada, seperti Pura Dalem Tengaling, Pura Manikcorong, Pura Penataran Sasih, Pura Puseh lan Desa, Pura Tamn Sari, hingga Pura Kebo Edan. Sementara itu, sejumlah anggota sekeha pesantian khusyuk membacakan sloka-sloka yang mengisahkan seputar petualangan Sang Lubdaka.
Setelah melaksanakan tahapan-tahapan untuk melaksanakan puja siwa ratri, umat pun mepamit, pulang ke rumah masing-masing sekitar pukul 06.00 wita. (dey)




Selasa, 31 Desember 2013

Semeton Satria Kandel Pejeng Tirthayatra ke Bali Barat

PEJENG, Keluarga Besar Semeton Satria I Dewa Kandel Pejeng, Minggu (22/12) lalu, melaksanakan tirthayatra ke sejumlah Pura yang berada di Kabupaten Jembrana. Kegiatan ini diikuti tidak kurang dari 70 orang perserta, menggunakan bus. Rombongan berangkat sekitar pukul 07.00 wita, kemudian bersama-sama menuju wilayah paling barat Pulau Bali. Tampak ikut dalam tirtha yatra ini Pemangku Pura Kawitan, Kelian Ageng Semeton Satria I Dewa Kandel Pejeng, I Dewa Putu Suasta, serta Pemangku Penglingsir Istri.

Ada pun Pura yang pertama di tuju adalah Pura Rambut Siwi. Tiba sekitar pukul 09.35 wita, rombongan langsung menuju ke Pura Goa Tirtha, yang masih berada di lingkungan Pura Rambut Siwi. Untuk menuju Pura  Goa Tirtha ini pemedek harus menuruni jalan setapak yang kondisinya cukup licin. Pura ini berhadapan langsung dengan laut selatan. Herannya, meski deburan omba laut selatan cukup kuat, namun keberadaan Pura yang berada persis di sebuah mulut goa ini tetap kokoh.

Setelah melakukan persembahyangan pemedek melanjutkan sembahyang di Pura Melanting, yang berlokasi di sebuah tebing, tak jauh dari pura Goa Tirtha. Dari Pura ini tampak di kejauhan suasana laut selatan. Deburan ombak serta angin laut yang bertiup kencang terasa jelas dari dalam Pura ini.

Selanjutnya, persembahyangan dilanjutkan di Pura Rambut Siwi. Persembahyangan yang dipimpin Jero Mangku Pura setempat berlangsung khusyuk. Saat bersamaan juga tampak pemedek dari Denpasar maupun Kuta, Badung. Dari Pura Rambut Siwi, perjalanan dilanjutkan menuju Pura Jati, yang berlokasi di sekitar Desa Tegal Badeng, Jembrana. Seperti halnya di Pura Kahyangan Jagat pada umumnya, di Pura Jati ini juga terdapat sejumlah pelinggih. Namun yang memdekan, di areal Pura ini terdapat sebuah pohon jati yang berusia ratusan tahun. Pohon  jati yang dikeramatkan warga tersebut bercabang tiga selalu mengeluarkan Tirtha. Usai sembahyang yang dipuput Jero Mangku Pura setempat, seluruh rombongan tirthayatra istirahat sementara di wantilan, sambil santap siang bersama.

Pura Segara Rupek, menjadi tujuan terakhir dari perjalanan tirtha yatra semeton Satria I Dewa Kandel Pejeng. Berangkat dari Pura Jati, seluruh rombongankemudian meluncur ke arah Gilimanuk.  Memasuki kawasan hutan lindung Taman Nasional Bali Barat (TNBB), sopir bus pun mengurangi laju kendaraannya. Akhirnya, seluruh rombongan tiba di areal parkir komplek Pura Penataran Segara Rupek. Dengan berjalan kaki kurang lebih beberapa puluh meter, seluruh rombongan langsung  menuju Pura Segara untuk melakukan persembahyangan. Selanjutnya, sembahyang di Pura Penataran Segara Rupek. 

Terakhir, persembahayngan dilanjutkan di Pura Alas Angker. Untuk menuju Pura ini seluruh pemedek berjalan kaki  memasuki kawasan hutan kurang lebih 150 meter dari Pura Penataran Segara Rupek. Suasananya begitu tenang. Tampak akar pepohon kayu yang berumur ratusan tahun bergelantungan di sana-sini sehingga menambah angker suasana di sekitarnya. Sekitar pukul 16.00 wita, seluruh rombongan pun kembali ke Pejeng. Syukurlah seluruh kegiatan tirthayatra ini berlangsung sukses dan lancar. (dey)

Ketika Umat Sedharma Ramai-Ramai Tirthayatra

PEJENG, Gairah umat Hindu untuk melaksanakan Tirthayatra ke sejumlah Pura dalam beberapa tahun belakangan ini tampaknya meningkat. Buktinya, hampir setiap hari libur –apakah hari minggu ataukah hari-hari libur nasional lainnya—selalu dimanfaatkan oleh kalangan umat Hindu di Bali untuk pedek tangkil ngaturang bhakti ke sejumlah Pura sambil berwisata spiritual.

Lihat saja suasana di sepanjang Jalan Dr. Ir.  Soekarno—mulai dari jaba Pura Kebo Edan, Pura Pusering Jagat hingga Pura Penataran Sasih-- setiap hari libur selalu terlihat deretan bus atau pun mobil-mobil pribadi parkir. Rombongan tirthayatra tersebut bukan saja berasal dari wilayah Kabupaten Gianyar, namun banyak pula yang berasal dari luar, seperti umat Hindu asal Denpasar, Badung, Tabanan, Buleleng, Jembrana, Bangli, Klungkung, hingga Karangasem. Pura Sad Kahyangan maupun Pura Dang Khayangan yang ada di Pejeng ini selalu menjadi tujuan tirthayatra di samping Pura-Pura lainnya yang kebetulan berada di jalur yang sama seperti Goa Gajah, Pura Gunung Kawi, hingga Pura Tirtha Empul Tampaksiring.

Sejumlah pemedek yang ditemui di jaba Pura Penataran Sasih Pejeng menuturkan, tujuannya mengikuti tirthayatra, adalah untuk nunas ica, mendekatkan diri dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa, mohon keselamatan, kedamaian, serta kerahayuan jagat, juga untuk mengetahui dari dekat keberadaan masing-masing Pura yang dituju sambil beriwisata.

“Mumpung masih diberi kesempatan (hidup), Tyang sempatkan diri untuk maturang ke sejumlah Pura yang belum pernah tyang kunjungi. Saya merasa tentram dan damai setiap usai ngaturang bhakti,” ucap Pak Gede, salah seorang pemedek asal Denpasar. Dia juga mengatakan, kita patut bersyukur dan kagum atas segala warisan para leluhur terdahulu berupa Pura-Pura yang hingga kini masih lestari dan berdiri megah.
Hal senada diakui pemedek lainnya. Menurutnya,sebagai umat sedharma sudah saatnya mengetahui keberadaan Pura-Pura besar yang ada di Bali melalui kegiatan tirthayatra. “Agar tidak tahu dari cerita orang lain, alangkah baiknya kita yang langsung pedek tangkil melalui kegiatan tirthayatra ini,” ujar Gusti Ngurah, pemedek asal Denpasar.

Memang, apa yang disampaikan pemedek tersebut benar adanya. Sebagaimana diketahui, tirthayatra adalah perjalanan suci untuk mendapatkan tirtha.Dalam perkembangannya, istilah tirthayatra ini  kemudian direalisasikan dengan jalan pedek tangkil ke sejumlah Pura. Dengan tirthayatra ini pula umat sedharma bisa lebih mendekatkan diri dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa.


Seiring perkembangan zaman, tak jarang di antara masyarakat yang menjadikan kegiatan ini sebagai trend. Kegiatan suci ini dijadikan ajang untuk show, pamer diri, sok paling tahu akan keberadaan pura dan sebagainya. Atau bahkan ada yang bangga menceritakan dirinya pernah pedek tangkil ke seluruh Pura yang ada di Bali hingga ke Pura-Pura yang ada di Tanah Jawa. (dey)

Selasa, 19 November 2013

Napak Tilas Ngurah Rai di Pejeng

Pawai obor serangkaian napak tilas Ngurah Rai di Pejeng
PEJENG - Sore itu, Jumat (15/11), suasana di Desa Pejeng tampak semarak dengan bendera Merah Putih. Ribuan siswa dari sekolah dasar (SD) hingga SMA yang ada di desa Pejeng sedang bersiap-siap menyambut rombongan napak tilas Ngurah Rai, lengkap dengan bendera merah putih ukuran kecil di tangan. Sementara siswa SMP Santiyoga Pejeng membawa obor diiringi tetabuhan baleganjur dari sekolah setempat. 
Setelah menunggu hampir 1,5 jam, akhirnya Pasukan  napak tilas yang membawa Pataka dan surat sakti serta panji-panji perjuangan Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai, pun memasuki Desa Pejeng sekitar pukul 19.15 wita. Pasukan napak tilas itu kemudian disambut barisan Pemuda Panca Marga (P2M) bersama-sama ribuan siswa berjalan kaki menuju tugu pahlawan Sapta Dharma Desa Pejeng.
Pekikan merdeka... dari warga yang menyaksikan iring-iringan ini disambut pekikan merdeka dari para peserta napak tilas, sehingga membuat suasana heroik. Pekikan merdeka ini terus berkumandang selama dalam perjalanan dengan iringan tetabuhan baleganjur serta pawai obor, seakan menambah semangat para peserta napak tilas menuju Tugu Pahlawan Pejeng.

Setibanya di Tugu Pahlawan Sapta Dharma, seluruh peserta napak tilas mengikuti upacara bersama seluruh siswa serta diisi doa bersama, sebagai penghormatan atas jasa-jasa para pahlawan. Seusai upacara, seluruh panji-panji, Pataka serta surat sakti Ngurah Rai disemayamkan di Puri Pejeng.
Yang menarik, pada malam harinya di jaba puri Pejeng dilangsungkan malam hiburan yang menampilkan tari-tarian dari anak-anak SMP Santiyoga serta pementasan seni duta dari Pemkab Gianyar.

Sekadar diketahui, upacara serah terima Panji-Panji dan Surat Sakti dari Kabupaten Bangli kepada Kabupaten Gianyar diterima Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Cokorda Gde Rai Widiarsa Pemayun di Lapangan Astina, Gianyar, (15/11). Meski dalam suasana guyuran hujan prosesi serah terima berlangsung khidmat.
Panji-Panji dan Surat Sakti tersebut selanjutnya  diarak mengelilingi Kabupaten Gianyar dengan rute, Balai Budaya menuju ke TMP Kerta Kirttya Mandala selanjutnya menuju Bona – Belega – Blahbatuh – Tegenungan, Kemenuh – Pura Dalem Sukawati – Guwang – Celuk – Batubulan - Kutri, Singapadu – Silakarang – Kengetan – Belang – Tunon, Singakerta – Buduk, Sayan – Kedewatan – Payangan – Kelusa – Keliki, Tegallalang – Gentong – Pura Dalem Puri Peliatan – Tebesaya – Teges Kangin – Bedulu dan selanjutnya disemayamkan di Puri Pejeng. 

Sementara keesokan harinya,  Sabtu (16/11) Panji-panji dan Surat Sakti Ngurah Rai diserahkan kepada Pemerintah Kota Denpasar. Kepala Dinas Sosial sebagai Ketua Panitia Kegiatan, I Wayan Suardana, mengatakan, kegiatan ini dirangkaikan dengan Peringatan Hari Pahlawan ke-68  (10 November 2013) dan Peringatan Puputan Margarana ke-67 (20 November 2013).

Seusai upacara serah terima Panji – Panji dan Surat Sakti juga dilaksanakan sarasehan di Balai Budaya dengan tujuan untuk mewariskan nilai – nilai kepahlawanan para Kusuma Bangsa kepada generasi Penerus Bangsa sekaligus mengenang jasa – jasa beliau yang telah memeperjuangkan dan mempertahankan ibu pertiwi. Sarasehan tersebut menghadirkan dua narasumber yakni, dari Kodim 1616 Gianyar, Samsuri dengan materi “ Kepahlawanan Terkait NKRI” dan dari Pemuda Panca Marga (PPM) Provinsi Bali, Prof. Dr. Wayan Windia dengan materi “ Pelestarian Nilai- Nilai Kepahlawanan”.
Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Cokorda Gde Rai Widiarsa Pemayun mengatakan, penyelenggaraan Safari Napak Tilas dalam rangka mengenang semangat heroik dari Pahlawan I Gusti Ngurah Rai beserta segenap laskarnya yang telah berjuang dengan semangat puputan yang dikenal masyarakat Bali sebagai Puputan Margarana.
“Pemerintah daerah sangat mendukung kegiatan Safari Napak Tilas ini dan memfasilitasi seluruh sarana dan prasarana dari kegiatan ini,” terang Cok Rai Widiarsa.

Cok Rai Widiarsa menambahkan, dengan pelaksanaan Safari Napak Tilas ini dapat menumbuh kembangkan jiwa – jiwa dan nilai juang 45 sehinga pelaksanaan Safari Napak Tilas ini nantinya akan menyentuh seluruh wilayah yang ada di Kabupaten Gianyar. (dey, hms)

Kamis, 31 Oktober 2013

Ketika Barong Bangkal Ngelawang Keliling Desa

Hari Raya Galungan dan Kuningan merupakan momen yang selalu ditunggu-tunggu anak-anak di Bali. Tak terkecuali anak-anak di Desa Pejeng. Bagi sebagian besar anak-anak, hari raya ini bukan hanya momen untuk “ngebah” baju baru, tapi juga untuk menonton atraksi barong bangkal ngelawang. Bahkan tak jarang di antara anak-anak itu terlibat langsung dalam sekeha barong tersebut. Sementara anak-anak lainnya rela merogoh kocek Rp 1000 – Rp 2000 untuk ngupah barong.

“…pung, pung, pung, …pung, pung, pung,….” sayup-sayup terdengar suara kempur di kejauhan. Mendengar suara itu, anak-anak berlarian keluar rumah lengkap dengan duit di tangannya. Mereka tahu, kalau sebentar lagi ada barong bangkal  ngelawang. Begitu sekeha barong mendekat, di antara anak-anak itu mengacungkan tangannya lanjut menyerahkan uang recehan Rp 2000 kepada salah seorang anggota sekeha barong. “Tyang ngupah aji duang tali …,” ucap bocah itu kepada salah seorang anggota sekeha barong seraya menyerahkan uang  Rp 2000.

Begitu diberi komando, sekeha gong baong itu pun menabuh gamelannya dengan penuh semangat. “…Pung, pung, pung… nang-nong, nang,  pung, pung, pung,… pung, pung, pung,….”. Terdengar suara  kendang, kempur, cengceng, klenang, klenong bersahutan seakan menciptakan harmoni yang penuh semangat. Dan, barong pun tampak menari-nari, melenggak-lenggokan badannya mengikuti irama tetabuhan.

Saat terdengar teriakan cyiiiiiiiittt…. cyiiiiit…cyiiittt… tah.! dari anak-anak,  barong bangkal pun seakan tertantang, berjingkrak-jingkrak, berlari mengejar anak-anak yang sedari tadi berteriak cyiiiittt…,cyiiittt.... tah. Seiring dengan itu, suara tetabuhan juga makin keras dan galak.

Sekitar kurang lebih 5 menit beraksi mengejar anak-anak yang berlarian, tak satu pun di antara mereka itu yang tertangkap. Barong pun kembali ke tempat semula, menghentikan aksinya kemudian melanjutkan ngelawang ke tempat lainnya.

Menurut sejumlah anak-anak, nonton barong bangkal memang mengasyikkan. “Wah, pokoknya asyik dan seru…’’ ujar Dewa Ariguna dan Dewa Surya di sela-sela nonton barong bangkal ngelawang di Desa Pejeng, Kamis (24/10) lalu. Menurut Ariguna, setiap Galungan dan Kuningan, dirinya bersama teman-temannya selalu menonton barong bangkal. Bahkan sesekali dia bersama temannya ikut berteriak ‘’….cyiiiitttt…” agar dikejar barong. “Wah… seru sekali,” ujarnya.


Sementara itu, para tetua mengakui, tradisi barong ngelawang memang rutin digelar setiap Hari Raya Galungan dan Kuningan. Sejak zaman dulu sudah ada tradisi ngelawang ini. Memang pada beberapa tahun lalu tradisi ngelawang ini sempat vakum, namun kini bangkit kembali. Sejumlah warga percaya, dengan ngupah barong ternak babinya kelak bisa tumbuh sehat. (dey)

Meriahnya Galungan di Pejeng

SUASANA Hari Raya Galungan di Desa Pejeng, Rabu (23/10) lalu tak jauh beda dengan desa-desa lainnya di Bali. Penjor beraneka hiasan tampak berdiri megah di depan rumah-rumah warga. Ribuan umat se-Desa Pakraman Jro Kuta Pejeng tampak melakukan persembahyangan sejak pagi hari. Dimulai dari Merajan, Pura Dadya, Pura Kawitan hingga ke sejumlah Pura yang ada di wilayah desa pakraman Jro Kuta Pejeng. 

Seperti yang terlihat di Pura Kebo Edan, Pura Atman Surat, Pura Pusering Jagat, Pura Penataran Sasih, Pura Puseh/Desa dan Bale Agung, Pura Taman Sari, Pura Manikcorong, Pura Melanting, hingga Pura Dalem dan Prajapati, pemedek silih berganti melakukan persembahyangan. Hari Raya Galungan ini dijadikan momen untuk memohon keselamatan, kerahayuan keluarga serta kedamaian jagat, sebagaimana halnya makna kemenangan dharma atas adharma.

Yang menarik, di sela-sela ramainya umat yang pedek tangkil, tampak beberapa pemedek yang selama ini tinggal di luar Desa Pakraman Pejeng. Ada yang tinggal di Denpasar, Singaraja, atau bahkan ada di luar Pulau Bali. Mereka sengaja datang ke kampung halamannya saat libur panjang ini untuk bertemu sanak keluarga serta teman-teman seperjuangan semasa kecil dulu. Hari raya ini seakan jadi ajang ngumpul bersama keluarga, sekaligus bernostalgia. Dan yang terpenting, bisa sembahyang di Pura-Pura yang ada di Desa Pejeng.

Usai sembahyang, sejumlah warga ada yang piknik ke obyek-obyek wisata terdekat. Ada pula yang ngumpul bareng keluarga besar di rumah, sambil menyantap tum bungkil, tum biyu batu, atau lawar serta kudapan tape ketan manis plus jaja uli. Suasana makin berkesan saat ada barong bangkal ngelawang, lalu mengejar anak-anak yang meneriakkan kata ‘’…cyiiitttt… tah!’’ berulang-ulang diiringi gambelan yang penuh semangat. Sungguh, ini Galungan yang berkesan…! (dey)