Minggu, 17 Mei 2020

TERTIMBUN LONGSOR, KELABAH TATIAPI KERING


PEJENG - Warga Pejeng yang selama ini suka mandi, berendam atau mencuci di kelabah (kali) jalur Tatiapi, Tugu Pahlawan hingga kawasan Nyembulan Br. Pande harus gigit jari. Pasalnya tidak ada air mengalir di sepanjang kelabah tersebut sejak beberapa hari terakhir ini. Setelah ditelusuri penyebabnya ternyata ada material longsoran tebing yang menutupi daerah aliran kelabah tersebut di daerah hulu, tepatnya di sebelah selatan Tukad Bubung. 
Menurut informasi dari sejumlah warga, musibah longsor tersebut terjadi saat hujan lebat mengguyur, Pejeng Minggu 17 Mei 2020 malam hingga Senin 18 Mei 2020. Derasnya curah hujan kala itu menyebabkan air di hulu Tukad Bubung turut meluap, sehingga menyebabkan ada limpahan air ke kelabah. Luapan air tersebut menghanyutkan berbagai sampah dan ranting pohon ke daerah hilir. 

                                     foto-foto dewa suamba
Tebing di sekitar kelabah yang tidak kuat menampung luapan air tukad Bubung akhirnya jebol dan menutup aliran air ke hilir. 
"Tidak ada air ke selatan (hilir), akibat ada tebing longsor," ujar Gusti Rai, salah seorang warga. 

Pantauan WARTA PEJENG di lapangan, Sabtu 23 Mei 2020, material longsoran tebing di daerah hulu itu masih menutupi badan kelabah. Tampak ranting kayu, akar bambu yang sudah lapuk, serta puluhan pong-pongan (buah kelapa bekas gigitan tupai) menumpuk di pinggir kelabah. Sampah-sampah tersebut nyangkut begitu saja sehingga semakin menyulitkan air mengalir menuju ke hilir. 
Kondisi jalan yang sangat licin memaksa setiap orang yang melintas di sana harus ekstra hati-hati, jika tidak inhin terpeleset ke dasar jurang.

Sekadar diketahui, dari kelabah inilah air dialirkan menuju kawasan Subak Bedulu dan Subak Nyembulan. Jika kondisi ini berlarut-larut, hektaran sawah di kawasan subak tersebut akan terancam. (Dewa Suamba) 




Tidak ada komentar: