Selasa, 30 September 2014

Caru Balik Sumpah Gering Digelar di SMPN 3 Tampaksiring

* Puluhan Siswa Kembali Kesurupan 

Pejeng, Pihak SMPN 3 Tampaksiring menggelar upacara caru balik sumpah, Selasa (23/9), serangkaian kesurupan siswa yang terjadi beruntun di SMPN3 Tampaksiring. 

Saat upacara yang dipuput Jero Mangku Pura Dalem Tengaling ini berlangsung, puluhan siswi kembali kesurupan.

Hal tersebut tentu saja membuat suasana sore di sekolah yang dekat setra adat Jro Kuta Pejeng itu kembali mencekam.

Satu persatu siswi tiba-tiba menangis, lalu ambruk dipangkaun teman-temannya. Suasana di sekitar lokasi upacara pun mencekam. Mereka yang kesurupan langsung dievakuasi ke ruang guru dan ruang UKS. 
Salah seorang siswi terpaksa dilarikan ke rumah sakit akibat mengalami sesak nafas pasca kesurupan. 
Kepala SMP  3 Tampaksiring, A.A Gede Surya Atmaja  mengatakan, caru balik sumpah gering ini dilakukan atas petunjuk Ida Pedanda Wayahan Bun dari Griya Sanur Pejeng. Ritual ini sebagai salah satu upaya dari pihak sekolah menangkal kasus kesurupan yang kerap dialami siswa di sekolah ini sejak sebulan terakhir. 
“Dengan digelarnya upacara ini, mudah-mudahan kasus kesurupan tidak terjadi lagi,” harapnya. (dey)

Siswa Kesurupan, Suasana di SMP 3 Tampaksiring Mencekam

Pejeng, Kasus kesurupan siswa belakangan ini ibarat “penyakit menular”. Setelah muncul di satu sekolah, lalu merambah ke sekolah-sekolah lainnya. Betapa tidak, kasus kesurupan ini jauh-jauh sebelumnya sudah terjadi di sejumlah sekolah di Bali. Bahkan beberapa sekolah di tanah Jawa pun kabarnya ada siswanya yang mengalami kesurupan. Dan kini giliran siswa SMPN 3 Tampaksiring, yang mengalaminya.

Sebanyak lima orang siswi sekolah setempat, Rabu (10/9) lalu tiba-tiba saja menangis histeris, lemas, lalu ambruk. Beberapa di antaranya lalu komat-kamit sambil ngoceh, entah siapa yang diajaknya bicara. Melihat hal itu, kontan saja siswa-siswa di sekolah yang berada di sebelah barat Pura Dalem Tengaling, Pejeng itu, mendadak heboh.

Para guru yang bertugas pada saat itu juga sibuk menangani siswi yang kesurupan itu. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, siswa setempat pun dipulangkan lebih awal. Bahkan, siswa kelas VII yang masuk sore pun akhirnya diliburkan. 

Menurut informasi, kasus kesurupan ini sebenarnya sudah terjadi beberapa hari sebelumnya. Namun puncaknya terjadi sekitar pukul 09.30 wita, Rabu (10/9). Dimana, ada sebanyak lima orang siswi kesurupan. Dua di antaranya yakni Ni Komang Feby Aprilia siswi kelas VIII dan A.A Istri Indira Dewi siswi kelas IX, mengalami kesurupan paling lama. 

Menurut Wakasek Kesiswaaan SMPN3 Tampaksiring, Ketut Suena, tercatat ada sekitar 15 siswi yang kesurupan.Atas kejadian itu, pihaknya sudah memohon petunjuk kepada Ida Pedanda Wayahan Bun dari Griya Sanur, Pejeng. Bahkan, Ida Pedanda Wayan Bun langsung datang untuk mengecek kondisi sekolah setempat. Dari hasil pengecekan itu, diketahui ada gangguan “niskala” dari luar. Pada saat itu, Ida Pedanda langsung memercikkan tirtha dan melakukan ritual di halaman sekolah. 


Sementara itu, pasca kesurupan, Kamis (11/9), suasana belajar mengajar di SMP 3 Tampaksiring berangsur normal. (dey)

Minggu, 31 Agustus 2014

Air Bersih Mulai “Ngecor” di Rumah Warga

PEJENG, Desa Pejeng kini terus menggeliat. Gebrakan demi gebrakan yang dilakukan Kepala Desa Pejeng Cokorda Gede Agung Kusuma Yudha, mulai terlihat hasilnya. Salah satunya yang kini sedang berlangsung adalah proyek pengadaan air bersih. 

Kini air bersih sudah “ngecor” di rumah-rumah warga.  Proyek air bersih ini tentu menjadi jawaban atas keluhan warga yang sejak lama menanti  ada pasokan air bersih, untuk mengatasi krisis air bersih pada saat musim kemarau tiba.

Seperti diketahui, air PDAM memang sejak lama sudah mengalir di Pejeng, namun belum mampu maksimal memenuhi kebutuhan warga akan air bersih. Pasalnya, aliran air PDAM ini kerap kali seret, atau bahkan tidak mengalir sama sekali dan berhari-hari. Hal itu biasanya terjadi saat musim kemarau tiba. Jika sekarang ada air bersih yang dirintis oleh desa, tentu akan dapat membantu warga yang sewaktu-waktu kekurang pasokan air dari PDAM.

Lihat saja jalan-jalan di sekitar Desa Pejeng dalam beberapa minggu belakangan ini, banyak yang digali untuk pemasangan pipa air. Air tersebut dialirkan dari sumber air di Tukad Bubung, sekitar 250 meter dari Pura Dalem Tengaling, Pejeng. Pada awalnya, pengadaan proyek air bersih ini sebelumnya juga melibatkan aparat TNI.

Sejumlah warga masyarakat mengaku senang, lantaran saat ini air sudah bisa mengalirhingga ke rumahnya. “Syukurlah, kini air bisa mengalir sampai di rumah saya. Jadi tidak perlu susah-susah jalan kaki ke sungai hanya untuk mandi,” ujar De’Aji  Manik.

Hal senada disampaikan sejumlah warga lainnya. Warga memuji terobosan yang dilakukan Perbekel Cok. Agung yang sangat pro rakyat. “Pengadaan air bersih ini merupakan salah satu bukti, bahwa Pak Cokorda Perbekel sangat peduli dan mendengar apa yang dibutuhkan warga selama ini,” ujar sejumlah warga dalam perbincangan ringan di sebuah warung di pasar sengol alun-alun.


Kini air bersih sudah mengalir.  Saatnya sekarang warga bersama-sama turut menjaga kelangsungan dari air bersih ini. Atau dengan kata lain, selalu menjaga kelestarian lingkungan Desa Pejeng dan yang tak kalah pentingnya, ingat bayar rekeningnya setiap bulan…! (dey)

Belasan Barong Pentas di Perguruan Santi Yoga Pejeng

PEJENG, Pentas tari  bapang barong memang sudah biasa di kalangan masyarakat Hindu di Bali. Namun jika pentas barong ini di langsungkan di satu tempat dan diikuti belasan sekeha barong, tentu ini ini merupakan hal yang luar biasa. Jarang ada pentas bapang barong yang melibatkan lebih dari satu sekeha barong. Yang dipentaskan di  Perguruan SMP Santiyoga Pejeng beberapa waktu lalu, mungkin  salah satunya.

Pentas kesenian barong yang dikemas dalam acara bertajuk “Parade Barong Se-Bali” itu digelar serangkaian memeriahkan hari ulang tahun emas (50 th.) Perguruan SMP Santiyoga Pejeng, yang jatuh pada 16 Agustus 2014 lalu. Acara yang menjadi puncak berbagai kegiatan yang digelar SMP swasta tertua di Pejeng ini sukses menyedot perhatian krama desa Pejeng. Mulai dari anak-anak hingga orang tua tampak berjubel memadati  arena pentas yang dibuat dengan latar belakang candi bentar sekolah setempat. Jalan di depan sekolah ditutup sementara. Arus lalu lintas dari arah Pasar Pejeng kemudian dialihkan ke arah selatan menuju Br. Pande atau ke arah utara menuju ke Banjar Puseh.

Pementasan barong ini mendapat perhatian serius dari sejumlah pejabat terkait di Kabupaten Gianyar, pihak kecamatan hingga tokoh-tokoh warga masyarakat setempat. Bahkan para pejabat tersebut tampak antusias menonton pementasan demi pementasan barong duta dari sejumlah kabupaten di Bali. Di antaranya ada duta Kabupaten Bangli, Denpasar, Klungkung, Buleleng, Badung, Kota Denpasar dan duta dari Kabupaten Gianyar sendiri.

Ratusan penonton yang yang menyaksikan pementasan barong tersebut tampak berdecak kagum dan sesekali memberi aplaus meriah. Terutama ketika melihat aksi “tukang bapang” yang begitu lincah menarikan barong yang diusungnya. Pementasan barong secara gratis ini juga sempat menarik perhatian wisatawan mancanegara yang kebetulan jalan-jaloan di Desa Pejeng.

Kepala SMP Santiyoga Pejeng A.A Sweta mengatakan, berbagai kegiatan digelar serangkaian memeriahkan HUT-50 SMP Santiyoga Pejeng. Mulai dari berbagai lomba di internal sekolah, Parade Barong se-Bali hingga tabur bunga ke Tugu Pahlawan Sapta Dharma Pejeng. 

“Saya mengucapkan puji dan syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi, karena seluruh acara berjalan lancar,” ucapnya.

Disinggung soal parade barong ini, Agung Sweta mengatakan, kegiatan  ini untuk memperkenalkan tarian barong di kalangan siswa, sehingga mereka punya rasa cinta dan ketertarikan dalam upaya pelestarian warisan budaya leluhur yang adi luhung ini. (dey)


Kamis, 31 Juli 2014

Pohon Ancak di Jaba Pura Dalem Tengaling Tumbang

PEJENG- Hujan lebat yang mengguyur Pejeng, sejak pagi hari, Senin (14/7) menyebabkan  Pohon Ancak berukuran cukup besar tumbang. Syukurnya, peristiwa tumbangnya pohon tua yang disucikan warga tersebut tidak sampai menelan korban jiwa maupun materi. Pasalnya, pohon tersebut tumbang ke arah areal yang cukup lapang,  tepatnya di jaba Pura Dalem Tengaling, Pejeng.

Peristiwa pohon tumbang tersebut terjadi sekitar puikul 07.50 wita. Saat itu hujan yang mengguyur Pejeng cukup deras. Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh, yang ternyata pohon ancak di Jaba Pura Dalem Tengaling roboh. Mendengar ada pohon tumbang, salah seorang warga kemudian menghubungi pihak Badan Penanggualangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gianyar.

Tak lama berselang, petugas dari BPBD pun tiba di lokasi, untuk melakukan evakuasi. Namun upaya tersebut sempat tertunda, karena petugas masih harus menunggu Pemangku Pura Dalem Tengaling, untuk melaksanakan upacara ngeluhuran, karena pohon tersebut selama ini disucikan warga setempat. Setelah prosesi upacara  ngeluhuran dilaksanakan, petugas BPBD pun melaksanakan tugasnya, memotong batang pohon yang melintang di jaba Pura, menggunakan gerjagi mesin.

Sejumlah warga yang ditemui di lokasi mengaku kaget ketika mendengar ada suara gemuruh saat hujan lebat. “Saya kaget mendengar  suara bergemuruh, eh…  ternyata pohon ancak ini yang tumbang,” ujar sejumlah siswa SMPN 3 Tampaksiring yang sekolahnya berada di sebelah barat Pura Dalem Tengaling.
Para siswa itu mengaku bersyukur, karena tidak ada korban dalam muisbah ini. Menurut mereka, biasanya teman-temannya memarkir sepeda motornya di di areal ini. “Tumben, saat kejadian ini tidak ada yang parkir di sana,” ujarnya.

Hal senada disampaikan sejumlah warga lainnya. “Ini sudah merupakan swecan Widhi, pohon ini tumbang ke arah yang aman. Padahal di utaranya ada candi bentar dan tembok penyengker Pura Dalem Tengaling, sementara di sebelah timur ada rumah warga, di arah selatan ada Pura Prajapati, itu semuanya selamat. Ini sungguh paswaecan Widhi,’’ ucapnya.

Pantauan di lokasi, pohon ancak ini tumbang diduga karena akarnya lapuk, sehingga tumbang saat diterpa angin kencang dan hujan lebat.(dey) 

Jalan Santai Dulu, Kemudian Pesta Bubur

PEJENG – Ada yang menarik dalam Porsenides Pejeng 2014 tahun ini. Selain dilombakan berbagai cabang olah raga dan seni, juga dilangsungkan kegiatan jalan santai, Minggu (29/6). Kegiatan yang diikuti ribuan warga Pejeng ini menempuh rute kurang lebih 8 km ini mengambil start di Lapangan Umum Sapta Dharma Pejeng. 

Seluruh peserta kemudian bersama-sama berangkat menuju Br. Pande ke timur, Br. Intaran ke selatan menuju jaba Samuan Tiga, Bedulu. Selanjutnya menuju Br. Taman Bedulu, terus ke timur menuju Petemon Desa Pejeng Kelod sampai di Desa Kelusu ke barat menuju Br. Panglan dan kembali ke Lapangan Desa Pejeng.

Bukan hanya kalangan dewasa, peserta anak-anak hingga balita pun turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Para peserta tampak antusian mengikuti kegiatan ini, karena selain untuk olahraga juga untuk merekatkan tali kekerabatan dan persahabatan antar warga. Pasalnya, banyak di antara peserta ini jauh-jauh datang dari kota hanya untuk bisa berkumpul bersama warga lainnya di kampong halaman.

Setelah menumpuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya peserta tiba di finish, di lapangan Sapta Dharma Pejeng. Yang menarik, begitu tiba di garis finish,  para peserta langsung diarahkan menuju lapangan untuk menikmati kuliner khas pejeng, bubuh.
Di dalam lapangan ada 11 pedagang bubur yang siap melayani warga peserta jalan santai. Hebatnya, warga bisa bebas memilih pedagang bubur. Bebas menikmati bubur yang  disajikan secara gratis. Maka tak heran, begitu tiba di lapangan, seluruh pedagang bubur diserbu warga, semuanya lais maseluk.

Dengan berpakaian adat Bali, para pedagang ini dengan penuh kesabaran melayani setiap pengunjung yang ingin mencicipi satu porsi Bubur Bali. Tak sampai satu jam, hidangan bubur khas Pejeng ini sudah ludes diserbu pengunjung.    

Ide kreatif yang datang dari Perbekel Desa Pejeng Cokorda Agung Kusuma Yudha ini diharapkan mampu memperkenalkan kuliner khas Pejeng serta mengangkat kesejahteraan hidup para pelaku usaha kecil ini.  “Kami ingin dengan festival ini mencoba untuk memperkenalkan kuliner khas Pejeng," ujarnya.

Cok Agung menambahkan, untuk kegiatan festival ini, sebanyak 11 pedagang bubur se Desa Pejeng diberikan dana masing-masing Rp 500 ribu dengan menyediakan masing-masing sebanyak 100 porsi bubur. “Kami memberikan dana cuma-Cuma, masing-masing Rp 500 ribu dan seluruh masyarakat bisa menikmati bubur secara gratis,” imbuhnya.

Selain untuk mempromosikan kuliner khas Pejeng, kegiatan festival tersebut juga sebagai ajang pengenalan kepada masyarakat, khususnya para generasi muda untuk mencintai kuliner tradisional yang ada di Pejeng.

Ke depannya, Desa Pejeng berencana membuat sebuah pusat kuliner bubur khas Pejeng dalan satu lokasi. Dengan demikian, warga yang ingin menikmati bubur khas Pejeng bisa langsung menuju lokasi tersebut. “Areal untuk pusat kuliner bubur itu sudah ada. Jika semuanya sudah terpusat, kami harapkan bisa mematok harga yang layak dan kehidupan pedagang bubur pun bisa terangkat,” harapnya. 

Salah seorang pedagang bubur, Anak Agung Oka Bayu mengaku senang dengan kegiatan festival bubur ini. “Mudah-mudahan tahun depan bisa digelar lagi,” ujarnya. Hal senada disampaikan pedagang bubur lainnya. “Lumayan untuk promosi. Jika ada warga yang sebelumnya tidak tahu tentang bubur kami, sekarang bisa mengenalnya langsung. Jika  warga nantinya ingin beli bubur, bisa langsung membeli bubur kami di dalam Pasar Pejeng,” ujar pedagang lainnya. (dey)


Ratusan Atlet dan Seniman Meriahkan Porsenides Pejeng 2014

* Kontingen Banjar Puseh Kembali Juara Umum

PEJENG, Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Desa Pejeng kembali digelar. Even tahunan ini dibuka Perbekel Cokorda Agung, Sabtu (21/6) di lapangan Umum Sapta Dharma, Pejeng. Upacara pembukaan Porsenides tahun ini dihadiri para tokoh, prajuru desa, atlet serta seniman yang akan berlaga.  

Ribuan warga tampak antusias menyaksikan upacara pembukaan Porsenides ini. Diawali dengan defile masing-masing kontingen  serta senam aerobic massal, serta atraksi seni Pencaksilat Bakti Negara Banjar Pande,
Berbeda dengan tahun lalu, Porsenides kali ini hanya diikuti kontingen dari Banjar Intaran, Banjar Puseh, Banjar Guliang, Banjar Pande dan Banjar Panglan. Sementara kontingen dari Banjar Pedapdapan absen,  lantaran terbentur kesibukan upacara adat di wilayah pakraman setempat.

Ada pun cabang olahraga  yang dipertandingkan di antaranya, bola voli umum putra, bola basket putra-puri tingkat SMP dan umum, sepak bola anak-anak, catur, tenis meja, serta bola kasti PKK. Sedangkan untuk cabang seni di antaranya, tari rejang, baris gede, membuat klakat, serta sengkui.

Perbekel Desa Pejeng Cokorda Agung Kusuma Yudha dalam sambutannya mengatakan, Porsenides ini merupakan ajang pembinaan prestasi sekaligus penyaluran bakat warga masyarakat, utamanya para generasi muda. Melalui ajang Porsenides ini pula diharapkan akan lahir nantinya atlet-atlet muda berprestasi, yang mampu membawa nama baik desa di tingkat kabupaten, provinsi bahkan hingga di tingkat nasional maupun internasional. “Saya yakin suatu saat nanti akan lahir atlet-atlet muda berbakat asal Pejeng yang berprestasi di tingkat Kabupaten hingga nasional,”ujarnya.

Dikatakan, saat ini sudah ada empat orang atlet Pejeng yang dipercaya mewakili Kabupaten Gianyar di tingkat Propinsi Bali. Hal itu diharapkan akanmembuka jalan bagi atlet-atlet lainnya untuk terus berprestasi. Cokorda Agung mencontohkan, pesepakbola nasional U-19 asal Batubulan  I Putu Gede Juniantara yang mengharumkan nama Bali di kancah nasional hingga intersional. “Saya harapkan nanti akan muncul Putu Gede – Putu Gede lainnya dari ajang Porsenides Pejeng ini,” katanya.

Puseh Juara Umum
Setelah melalui perjuangan yang cukup berat dari berbagai cabang olah raga dan seni yang diperlombakan, akhirnya kontingen Banjar Puseh sukses mendulang medali terbanyak. Dengan perolehan prestasi ini pula, Banjar Puseh kembali dinobatkan sebagai juara umum Porsenides 2014 dan mendapat piala bergilir dari Perbekel Desa Pejeng. Prestasi ini merupakan kali keduanya di ajang yang sama, karena tahun sebelumnya Banjar Puseh juga mendapat gelar juara umum.


Perbekel Desa Pejeng Cokorda Agung pada penutupan Porsenides 2014 menyatakan puas dan bangga, lantaran event tahunan ini berjalan sukses dan lancar. “Saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak utamanya para atlet, maupun seniman serta seluruh masyarakat yang selama Porsenides ini berlangsung sangat mensuport kegiatan ini,” ucapnya seraya berharap kegiatan serupa di tahun-tahun mendatang bisa lebih bagus lagi. (dey)