Minggu, 31 Agustus 2014

Belasan Barong Pentas di Perguruan Santi Yoga Pejeng

PEJENG, Pentas tari  bapang barong memang sudah biasa di kalangan masyarakat Hindu di Bali. Namun jika pentas barong ini di langsungkan di satu tempat dan diikuti belasan sekeha barong, tentu ini ini merupakan hal yang luar biasa. Jarang ada pentas bapang barong yang melibatkan lebih dari satu sekeha barong. Yang dipentaskan di  Perguruan SMP Santiyoga Pejeng beberapa waktu lalu, mungkin  salah satunya.

Pentas kesenian barong yang dikemas dalam acara bertajuk “Parade Barong Se-Bali” itu digelar serangkaian memeriahkan hari ulang tahun emas (50 th.) Perguruan SMP Santiyoga Pejeng, yang jatuh pada 16 Agustus 2014 lalu. Acara yang menjadi puncak berbagai kegiatan yang digelar SMP swasta tertua di Pejeng ini sukses menyedot perhatian krama desa Pejeng. Mulai dari anak-anak hingga orang tua tampak berjubel memadati  arena pentas yang dibuat dengan latar belakang candi bentar sekolah setempat. Jalan di depan sekolah ditutup sementara. Arus lalu lintas dari arah Pasar Pejeng kemudian dialihkan ke arah selatan menuju Br. Pande atau ke arah utara menuju ke Banjar Puseh.

Pementasan barong ini mendapat perhatian serius dari sejumlah pejabat terkait di Kabupaten Gianyar, pihak kecamatan hingga tokoh-tokoh warga masyarakat setempat. Bahkan para pejabat tersebut tampak antusias menonton pementasan demi pementasan barong duta dari sejumlah kabupaten di Bali. Di antaranya ada duta Kabupaten Bangli, Denpasar, Klungkung, Buleleng, Badung, Kota Denpasar dan duta dari Kabupaten Gianyar sendiri.

Ratusan penonton yang yang menyaksikan pementasan barong tersebut tampak berdecak kagum dan sesekali memberi aplaus meriah. Terutama ketika melihat aksi “tukang bapang” yang begitu lincah menarikan barong yang diusungnya. Pementasan barong secara gratis ini juga sempat menarik perhatian wisatawan mancanegara yang kebetulan jalan-jaloan di Desa Pejeng.

Kepala SMP Santiyoga Pejeng A.A Sweta mengatakan, berbagai kegiatan digelar serangkaian memeriahkan HUT-50 SMP Santiyoga Pejeng. Mulai dari berbagai lomba di internal sekolah, Parade Barong se-Bali hingga tabur bunga ke Tugu Pahlawan Sapta Dharma Pejeng. 

“Saya mengucapkan puji dan syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi, karena seluruh acara berjalan lancar,” ucapnya.

Disinggung soal parade barong ini, Agung Sweta mengatakan, kegiatan  ini untuk memperkenalkan tarian barong di kalangan siswa, sehingga mereka punya rasa cinta dan ketertarikan dalam upaya pelestarian warisan budaya leluhur yang adi luhung ini. (dey)


Kamis, 31 Juli 2014

Pohon Ancak di Jaba Pura Dalem Tengaling Tumbang

PEJENG- Hujan lebat yang mengguyur Pejeng, sejak pagi hari, Senin (14/7) menyebabkan  Pohon Ancak berukuran cukup besar tumbang. Syukurnya, peristiwa tumbangnya pohon tua yang disucikan warga tersebut tidak sampai menelan korban jiwa maupun materi. Pasalnya, pohon tersebut tumbang ke arah areal yang cukup lapang,  tepatnya di jaba Pura Dalem Tengaling, Pejeng.

Peristiwa pohon tumbang tersebut terjadi sekitar puikul 07.50 wita. Saat itu hujan yang mengguyur Pejeng cukup deras. Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh, yang ternyata pohon ancak di Jaba Pura Dalem Tengaling roboh. Mendengar ada pohon tumbang, salah seorang warga kemudian menghubungi pihak Badan Penanggualangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gianyar.

Tak lama berselang, petugas dari BPBD pun tiba di lokasi, untuk melakukan evakuasi. Namun upaya tersebut sempat tertunda, karena petugas masih harus menunggu Pemangku Pura Dalem Tengaling, untuk melaksanakan upacara ngeluhuran, karena pohon tersebut selama ini disucikan warga setempat. Setelah prosesi upacara  ngeluhuran dilaksanakan, petugas BPBD pun melaksanakan tugasnya, memotong batang pohon yang melintang di jaba Pura, menggunakan gerjagi mesin.

Sejumlah warga yang ditemui di lokasi mengaku kaget ketika mendengar ada suara gemuruh saat hujan lebat. “Saya kaget mendengar  suara bergemuruh, eh…  ternyata pohon ancak ini yang tumbang,” ujar sejumlah siswa SMPN 3 Tampaksiring yang sekolahnya berada di sebelah barat Pura Dalem Tengaling.
Para siswa itu mengaku bersyukur, karena tidak ada korban dalam muisbah ini. Menurut mereka, biasanya teman-temannya memarkir sepeda motornya di di areal ini. “Tumben, saat kejadian ini tidak ada yang parkir di sana,” ujarnya.

Hal senada disampaikan sejumlah warga lainnya. “Ini sudah merupakan swecan Widhi, pohon ini tumbang ke arah yang aman. Padahal di utaranya ada candi bentar dan tembok penyengker Pura Dalem Tengaling, sementara di sebelah timur ada rumah warga, di arah selatan ada Pura Prajapati, itu semuanya selamat. Ini sungguh paswaecan Widhi,’’ ucapnya.

Pantauan di lokasi, pohon ancak ini tumbang diduga karena akarnya lapuk, sehingga tumbang saat diterpa angin kencang dan hujan lebat.(dey) 

Jalan Santai Dulu, Kemudian Pesta Bubur

PEJENG – Ada yang menarik dalam Porsenides Pejeng 2014 tahun ini. Selain dilombakan berbagai cabang olah raga dan seni, juga dilangsungkan kegiatan jalan santai, Minggu (29/6). Kegiatan yang diikuti ribuan warga Pejeng ini menempuh rute kurang lebih 8 km ini mengambil start di Lapangan Umum Sapta Dharma Pejeng. 

Seluruh peserta kemudian bersama-sama berangkat menuju Br. Pande ke timur, Br. Intaran ke selatan menuju jaba Samuan Tiga, Bedulu. Selanjutnya menuju Br. Taman Bedulu, terus ke timur menuju Petemon Desa Pejeng Kelod sampai di Desa Kelusu ke barat menuju Br. Panglan dan kembali ke Lapangan Desa Pejeng.

Bukan hanya kalangan dewasa, peserta anak-anak hingga balita pun turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Para peserta tampak antusian mengikuti kegiatan ini, karena selain untuk olahraga juga untuk merekatkan tali kekerabatan dan persahabatan antar warga. Pasalnya, banyak di antara peserta ini jauh-jauh datang dari kota hanya untuk bisa berkumpul bersama warga lainnya di kampong halaman.

Setelah menumpuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya peserta tiba di finish, di lapangan Sapta Dharma Pejeng. Yang menarik, begitu tiba di garis finish,  para peserta langsung diarahkan menuju lapangan untuk menikmati kuliner khas pejeng, bubuh.
Di dalam lapangan ada 11 pedagang bubur yang siap melayani warga peserta jalan santai. Hebatnya, warga bisa bebas memilih pedagang bubur. Bebas menikmati bubur yang  disajikan secara gratis. Maka tak heran, begitu tiba di lapangan, seluruh pedagang bubur diserbu warga, semuanya lais maseluk.

Dengan berpakaian adat Bali, para pedagang ini dengan penuh kesabaran melayani setiap pengunjung yang ingin mencicipi satu porsi Bubur Bali. Tak sampai satu jam, hidangan bubur khas Pejeng ini sudah ludes diserbu pengunjung.    

Ide kreatif yang datang dari Perbekel Desa Pejeng Cokorda Agung Kusuma Yudha ini diharapkan mampu memperkenalkan kuliner khas Pejeng serta mengangkat kesejahteraan hidup para pelaku usaha kecil ini.  “Kami ingin dengan festival ini mencoba untuk memperkenalkan kuliner khas Pejeng," ujarnya.

Cok Agung menambahkan, untuk kegiatan festival ini, sebanyak 11 pedagang bubur se Desa Pejeng diberikan dana masing-masing Rp 500 ribu dengan menyediakan masing-masing sebanyak 100 porsi bubur. “Kami memberikan dana cuma-Cuma, masing-masing Rp 500 ribu dan seluruh masyarakat bisa menikmati bubur secara gratis,” imbuhnya.

Selain untuk mempromosikan kuliner khas Pejeng, kegiatan festival tersebut juga sebagai ajang pengenalan kepada masyarakat, khususnya para generasi muda untuk mencintai kuliner tradisional yang ada di Pejeng.

Ke depannya, Desa Pejeng berencana membuat sebuah pusat kuliner bubur khas Pejeng dalan satu lokasi. Dengan demikian, warga yang ingin menikmati bubur khas Pejeng bisa langsung menuju lokasi tersebut. “Areal untuk pusat kuliner bubur itu sudah ada. Jika semuanya sudah terpusat, kami harapkan bisa mematok harga yang layak dan kehidupan pedagang bubur pun bisa terangkat,” harapnya. 

Salah seorang pedagang bubur, Anak Agung Oka Bayu mengaku senang dengan kegiatan festival bubur ini. “Mudah-mudahan tahun depan bisa digelar lagi,” ujarnya. Hal senada disampaikan pedagang bubur lainnya. “Lumayan untuk promosi. Jika ada warga yang sebelumnya tidak tahu tentang bubur kami, sekarang bisa mengenalnya langsung. Jika  warga nantinya ingin beli bubur, bisa langsung membeli bubur kami di dalam Pasar Pejeng,” ujar pedagang lainnya. (dey)


Ratusan Atlet dan Seniman Meriahkan Porsenides Pejeng 2014

* Kontingen Banjar Puseh Kembali Juara Umum

PEJENG, Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Desa Pejeng kembali digelar. Even tahunan ini dibuka Perbekel Cokorda Agung, Sabtu (21/6) di lapangan Umum Sapta Dharma, Pejeng. Upacara pembukaan Porsenides tahun ini dihadiri para tokoh, prajuru desa, atlet serta seniman yang akan berlaga.  

Ribuan warga tampak antusias menyaksikan upacara pembukaan Porsenides ini. Diawali dengan defile masing-masing kontingen  serta senam aerobic massal, serta atraksi seni Pencaksilat Bakti Negara Banjar Pande,
Berbeda dengan tahun lalu, Porsenides kali ini hanya diikuti kontingen dari Banjar Intaran, Banjar Puseh, Banjar Guliang, Banjar Pande dan Banjar Panglan. Sementara kontingen dari Banjar Pedapdapan absen,  lantaran terbentur kesibukan upacara adat di wilayah pakraman setempat.

Ada pun cabang olahraga  yang dipertandingkan di antaranya, bola voli umum putra, bola basket putra-puri tingkat SMP dan umum, sepak bola anak-anak, catur, tenis meja, serta bola kasti PKK. Sedangkan untuk cabang seni di antaranya, tari rejang, baris gede, membuat klakat, serta sengkui.

Perbekel Desa Pejeng Cokorda Agung Kusuma Yudha dalam sambutannya mengatakan, Porsenides ini merupakan ajang pembinaan prestasi sekaligus penyaluran bakat warga masyarakat, utamanya para generasi muda. Melalui ajang Porsenides ini pula diharapkan akan lahir nantinya atlet-atlet muda berprestasi, yang mampu membawa nama baik desa di tingkat kabupaten, provinsi bahkan hingga di tingkat nasional maupun internasional. “Saya yakin suatu saat nanti akan lahir atlet-atlet muda berbakat asal Pejeng yang berprestasi di tingkat Kabupaten hingga nasional,”ujarnya.

Dikatakan, saat ini sudah ada empat orang atlet Pejeng yang dipercaya mewakili Kabupaten Gianyar di tingkat Propinsi Bali. Hal itu diharapkan akanmembuka jalan bagi atlet-atlet lainnya untuk terus berprestasi. Cokorda Agung mencontohkan, pesepakbola nasional U-19 asal Batubulan  I Putu Gede Juniantara yang mengharumkan nama Bali di kancah nasional hingga intersional. “Saya harapkan nanti akan muncul Putu Gede – Putu Gede lainnya dari ajang Porsenides Pejeng ini,” katanya.

Puseh Juara Umum
Setelah melalui perjuangan yang cukup berat dari berbagai cabang olah raga dan seni yang diperlombakan, akhirnya kontingen Banjar Puseh sukses mendulang medali terbanyak. Dengan perolehan prestasi ini pula, Banjar Puseh kembali dinobatkan sebagai juara umum Porsenides 2014 dan mendapat piala bergilir dari Perbekel Desa Pejeng. Prestasi ini merupakan kali keduanya di ajang yang sama, karena tahun sebelumnya Banjar Puseh juga mendapat gelar juara umum.


Perbekel Desa Pejeng Cokorda Agung pada penutupan Porsenides 2014 menyatakan puas dan bangga, lantaran event tahunan ini berjalan sukses dan lancar. “Saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak utamanya para atlet, maupun seniman serta seluruh masyarakat yang selama Porsenides ini berlangsung sangat mensuport kegiatan ini,” ucapnya seraya berharap kegiatan serupa di tahun-tahun mendatang bisa lebih bagus lagi. (dey)

Selasa, 24 Juni 2014

PKK dan STT Se-Desa Pejeng Adu Wawasan di BANJAR BALI QUIZ

Kontingen PKK Desa Pejeng, berpose bersama sebelum mengikuti BBQ.
PEJENG, Suasana di wantilan Pura Penataran Sasih Pejeng, Minggu (4/4) pagi, tidak seperti biasanya. Ibu-ibu PKK serta remaja putra-putri bersolek bak artis dadakan. 
Sementara jalan di sepanjang jaba Pura Penataran Sasih dipadati sepeda motor dan mobil yang parkir rapi di kiri-kanan jalan. Di antaranya tampak pula mobil minibus berlogo BALI TV turut parkir di sana. Ada apa gerangan?

Ternyata pagi itu ibu-ibu PKK serta anggota sekeha Truna-Truni se-Desa Pakraman Jro Kuta Pejeng bersiap-siap mengikuti Banjar Bali Quiz (BBQ) produksi BALI TV. Sejumlah crew Bali TV sibuk menata segala perlengkapan untuk keperluan shooting BBQ. Sementara ratusan warga berbondong-bondong menuju wantilan megah itu untuk memberi support kepada masing-masing kontingennya, yakni dari Banjar Puseh, Banjar Intaran, Banjar Guliang, Banjar Pande serta Ibu-Ibu PKK Desa Pejeng.

Setelah semuanya lengkap dan siap berlomba, shooting BBQ pun dimulai. Acara ini dipandu langsung presenter I Made Sukadana Karang. Selain disaksikan ratusan krama, hadir dalam acara ini sejumlah tokoh Desa Pejeng di antaranya Bendesa Cokorda Rai Pemayun berserta Ny. Cokorda Istri Mas Minggu Wathini, Prajuru Desa Pejeng, Seniman tabuh I Made Suwe, asal Banjar Intaran Pejeng, serta Kelihan Banjar se-Jro Kuta Pejeng.

Acara ini semakin seru, karena pihak Bali TV menghadirkan artis pop Bali Gek Diah yang membawakan tembang-tembang Bali yang sudah tidak asing di telinga masyarakat, serta diselingi humor-humor segarnya.  Acara ini dibagai menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok sekeha teruna yang mempertemukan STT Yowana Dipa Daksina Banjar Intaran, STT Yowana Wira Laksana Banjar Pande, serta STT Yowana Budi Mudhita Banjar Guliang. Kedua, mempertemukan kelompok PKK Banjar Pande, PKK Desa Pejeng, serta PKK Banjar Intaran. Sedangkan kelompok ketiga mempertemukan PKK Banjar Puseh, PKK Guliang serta STT Yowana Kertha Yoga, Banjar Puseh.

Yang menarik, masing-masing peserta tampak unjuk kebolehan dalam menyampaikan yel-yel. Ada yang menari, menyanyi ala vocal grup hingga mejangeran dengan iringan music sederhana. Setiap aksi peserta pun mendapat sambutan meriah dari para penonton.


Bendesa Pakraman Pejeng Cok. Rai Pemayun menyambut positif acara BBQ yang digelar Bali TV ini. Menurutnya, kegiatan ini menguji wawasan serta kemampuan seluruh peserta. Hal ini akan memberi dampak positif bagi seluruh masyarakat untuk terus  membekali diri dengan berbagai kemampuan dan wawasan menghadapi kemajuan zaman, demi pembangunan desa. “Kegiatan ini sangat positif,” pungkasnya. (dey)

Kamis, 29 Mei 2014

Warga Mengeluh, Air PDAM ke Pejeng Macet

PEJENG – Distribusi air PDAM ke Desa Pejeng macet sudah dua pekan lebih, alias tidak mendapat air sama sekali. Kalau pun ada aliran air, itu pun sangat-sangat kecil.Hal tersebut tentu saja membuat warga geram. Bahkan sejumlah warga mengancam akan melakukan demo ke kantor PDAM di Tampaksiring.

Warga sangat menyayangkan pelayanan PDAM yang terkesan tutup telinga atas masalah ini. Padahal sejumlah warga sudah berusaha menghubungi pihak PDAM agar masalah ini segera teratasi, namun tidak mendapat pelayanan yang memuaskan dan terkesan petugasnya kurang sigap. Petugas baru turun ke lapangan –lokasi yang air PDAM nya macet-- setelah beberapa sebelumnya hari mendapat laporan.

Walau pun ada petugas yang turun mengecek rumah-rumah penduduk yang air PDAM-nya macet, namun tidak bisa berbuat banyak. Buktinya, air sampai saat ini menjelang penampahan Kuningan masih saja seret.

Setelah petinggi PDAM Gianyar mendapat keluhan dari salah seorang warga dan langsung mengcek kondisi di lapangan, memang ada inisiatif dengan mengirim mobil tangki air, keesokan harinya. Namun distribusi air bersih melalui mobil tangki itu hanya sekali itu saja. Buktinya, sampai sekarang masyarakat masih kesulitan mendapat air bersih untuk keperluan mandi, cuci dan kakus (MCK).
Untuk mengatasi krisis air bersih ini, warga terpaksa melakukan aktivitas mandi, cuci dan kakus (MCK) di sungai terdekat.

Menurut informasi, seretnya air PDAM ini dikarenakan ada gangguan mesin di Belusung, sehingga pengaliran air terpaksa harus dijatah secara bergiliran. Namun nyatanya, hingga kini aliran air PDAM masih saja macet, seret, dan
“kecrat-kecrit”. Kalaupun sempat mengalir, pas tengah malam sekitar pukul 01.00 Wita. Itupun aliran airnya hanya menetes.
Sementara itu, Dirut PDAM Gianyar Made Sastra Kencana seperti dilansir sejumlah media massa, mengakui adanya gangguan pelayanan PDAM itu. Menurutnya, sumber air untuk ke Pejeng memang mengalami penurunan debit air sebesar 3 liter /detik. Namun, pihaknya tetap berupaya untuk memberikan pelayanan kepada konsumen. “Kami minta maaf atas gangguan ini. Saat ini kami tengah melakukan pembenahan, terlebih debit air di sumbernya memang mengalami penurunan,” ujarnya. 

Sementara, salah seroang petugas PDAM yang melakukan pemantauan dan pengecekan Minggu (25/5) mengatakan, gangguan pelayanan ini akibat kecilnya pipa yang menyalurkan air ke rumah-rumah warga. Dikatakan, pipa yang digunakan saat ini masih pipa yang lama dan berukuran kecil, sehingga tidak maksimal untuk melayani konsumen yang ada.

Untuk sementara, pihaknya terpaksa melakukan pergiliran. Saat ini pihak PDAM akan segera melakukan pergantian pipa dengan ukuran yang lebih besar. “Kami harapkan dalam waktu dekat, pergantian pipa bisa dilakukan dan pelayanan air ke konsumen bisa maksimal,” pungkasnya. (dey)     

Akhirnya, Pejeng Punya Wakil Rakyat di DPRD Gianyar

PEJENG, Setelah sekian lama lowong pasca IB Swastika purnatugas, kini Pejeng kembali memiliki seorang wakil rakyat yang akan duduk di DPRD Gianyar masa bhakti 2014-2019. Hal itu menyusul ditetapkannya salah seorang caleg Partai Gerindra asal Puri Pejeng Cokorda Gde Putra Pemayun oleh KPU Gianyar dalam rapat pleno penetapan caleg terpilih DPRD Gianyar th. 2014-2019, beberapa waktu lalu.

Terpilihnya Cok Putra Pemayun sebagai wakil rakyat di DPRD Gianyar, tentu saja mengobati kerinduan krama Pejeng yang sejak lama merindukan ada anggota Dewan asal Pejeng duduk di gedung DPRD GIanyar. Harapan warga masyarakat Pejeng tersebut memang cukup beralasan. 
Pertama, untuk memudahkan akses warga masyarakat terkait pembangunan desa. 

Kedua, Pejeng yang merupakan desa tua, dan kaya potensi alam serta SDM nya yang handal, memang sudah sepantasnya ada yang menyuarakan segala aspirasi masyarakat secara langsung di gedung Dewan. 

Ketiga, ada semacam kebanggaan warga masyarakat jika ada putra desanya duduk di DPRD. Atau dengan kata lain, nama desa (Pejeng) turut terangkat dengan adanya wakil rakyat asal di DPRD Gianyar. Jadi, nama Pejeng diluar tidak lagi dianggap sepele. Namun mulai diperhitungkan di kancah yang lebih tinggi. Tidak seperti wacana yang berkembang selama vakum ini,  “…masak Pejeng dikalahkan desa-desa kecil dan terpencil lainnya, punya wakil rakyat di DPRD Gianyar atau bahkan di DPRD Bali…!???!”

Syukurlah kritikan semacam itu kini terjawab sudah, dengan terpilihnya Cok. Gede Putra Pemayun sebagai anggota DPRD Gianyar. Kalau saja masyarakat Pejeng mau kompak, bukan hanya wakil di DPRD Gianyar, wakil di DPRD Bali pun sebenarnya bisa. Karena ada caleg wanita asal Pejeng yang turut bertarung di tingkat Provinsi Bali. Terlebih dia berada dalam satu partai dengan Cok Gede Putra Pemayun. Dia itu adalah Cokorda Istri Mas Minggu Wathini. Istri Bendesa Pakraman Jro Kuta Pejeng Cokorda Rai Pemayun ini gagal melenggang ke Renon, lantaran pengumpulan suaranya saat Pemilu Legeslatif beberapa waktu lalu jauh dari rival-rival beratnya dari Partai Gerindra  seperti, Cok. Putra Nindia maupun Tagel Arjana. Belum lagi rival dari partai lainnya yang turut ekspansi  “munuh” suara di Desa Pejeng. 

Kalau saja masyarakat Pejeng kompak, mendukung Cok Putra Pemayun untuk DPRD Gianyar dan Cok Istri Mas Minggu Wathini untuk DPRD Bali, tentu apa yang diharapkan seluruh masyarakat selama ini --memiliki wakil rakyat di Gedung Dewan, akan semakin lengkap. Dan, sudah tentu pula nama Pejeng akan makin terangkat dan kian diperhitungkan oleh desa-desa lainnya di Bali. Namun apa daya... (dey)